koran1.id. Kabupaten Cirebon – Terkait dengan pemberitaan yang ditulis oleh redaksi koran1 perihal Postingan di media sosial yang diunggah oleh akun D’Box BirdFarm dengan menulis pernyataan dugaan adanya kasus hukum yang dipetieskan pada sepuluh tahun lalu beberapa waktu yang lalu mendapatkan komentar dari pembaca.
Pembaca koran1 yang mengirimkan e-mail kepada redaksi dengan  akun e-mail tonosamnus@yahoo.co.id yang diterima redaksi Rabu (09/10/19) dan akun ini menyebut juga Legal practice F&R.
Dalam komentar yang dilayangkan akun yang menggunakan nama Tono ini menyampaikan bahwa ada orang yang kebal hukum di negara ini.
Adapun yang ditulis pembaca via e-mail tersebut :
“Membaca narasi diatas masih ada orang yang kebal akan hukum, pertama saya sampaikan salut dan angkat topi atas kemampuannya mempeti-eskan perkara apalagi perkara yang berkaitan dengan nyawa orang. Itu dalam kategori kejahatan berat dengan santai menunggu sambil ngopi + udud,” tulis Tono.

Masij Menurut Tono, kedua, Ia menilai perkara pidana tidak berdasarkan pada asumsi lama dan baru.

“Mengingat pasal 78 KUHP mengatur tentang batas waktu daluarsa perkara pidana.10 tahun bukan waktu yang lama untk kejahatan berat seperti menghilangkan nyawa orang atau karena kelalaiannya, hilangnya nyawa orang dan percobaan menghilangkan nyawa orang,” lanjut Tono.

Dan yang Ketiga, penanganan perkara sesuai prosedur dalam pengertian perkara itu sudah ditangani sesuai dengan tahapan dengan satu kesimpulan apakah sudah diputus pengadilan dan atau SP3 sesuai dengan rumusan pasal 109 KUHAP.

“Karena tidak cukup bukti, bukan tindak pidana atau demi hukum. Hingga menurut saya menyimpulkan bahwa, Pemilik akun tersebut saya anggap orang hebat, kenapa hebat karena dengan santai dia punya perkara dan perkaranya di PETI-ESKAN (dalam hukum tidak mengenal istilah itu sebenarnya) bahkan dengan santai menantang Polri dalam hal ini penyidik dengan santai ngopi+ udud. Kesimpulan berikutnya, bagaimana kepolisian mensikapi dan menseriusi tantangan diatas minimal UU ITE , karena istilah peti-es itu dapat diartikan telah dibekukan tanpa kesimpulan perkara pidana sebagaimana rumusan pasal-pasal yang ada di KUHAP. Pertanyaan yang lazimnya Ada apa perkara hilangnya nyawa orang tidak ada kesimpulan hukum,” tandas Tono, mengakhiri.

Sebelumnya, wartawan koran1 sudah menanyakan terkait kelanjutan hal tersebut kepada Kapolsek Mundu, Akp Iwan Gunawan melalui pesan singkat Whatsapp, namun sampai saat ini dirinya masih belum memberikan keterangan dan tanggapan apapun. (Moes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here